Wisata Ke Kolombia, Mengenal Budaya Sepeda di Kolombia

‘La Bicicleta’ (Sepeda) adalah lagu yang booming tak hanya di Kolombia tapi juga hampir di semua negara yang ada di Benua Amerika dan Eropa pada tahun 2017. Lagu tersebut dibawakan oleh penyanyi Shakira bersama dengan Carlos Vives, dua penyanyi kelas dunia yang berasal dari Kolombia. Baik syair lagu maupun juga video klip lagu ini begitu mencerminkan tentang Kolombia dengan berbagai budaya hingga keindahan alamnya.

Wisata Ke Kolombia, Mengenal Budaya Sepeda di Kolombia

Dalam liriknya juga disebutkan bahwa Shakira meminta Carlos untuk mengajaknya berkeliling naik sepeda yaitu dari Santa Marta, kota yang terkenal dengan pantainya yang indah dan taman nasional Tayrona-nya, hingga ke La Arenosa di Barranquilla, kota asal Shakira, yang jaraknya yaitu sekitar 114 kilometer. Jarak yang sangat jauh dengan beberapa kontur jalan yang berkelok-kelok serta naik turun karena sebagian daerah yang ada di Kolombia memang bergunung-gunung.

Solusi dan Hiburan di Tengah Kemacetan

Syair lagu tersebut memang terasa Kolombia sekali dan sangat sesuai dengan konteks yang ada dari masyarakat di sana yang memang gemar menggunakan sepeda. Hentakan musik dan juga tarian yang dibawakan oleh Shakira dan penari latarnya juga sangat menggambarkan tentang masyarakat Kolombia yang penuh dengan keceriaan dan menikmati hidup. Masalah sosial seperti halnya kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas serta polusi juga ikut digambarkan dengan baik di video dan lagu tersebut.

Dalam video tersebut, diceritakan juga jika Shakira sedang melakukan sebuah perjalanan pulang kampung ke Baranquilla dengan mengendarai sebuah mobil menuju Santa Marta. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terjadi sebuah kemacetan yang parah, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari mobil yang ditumpanginya tersebut.

Saat itulah, muncul Carlos Vives yang kemudian menawarkan sepeda untuknya. Dan jadilah, kedua penyanyi tersebut kemudian mengayuh sepeda dengan gembira berkeliling Santa Marta. Di saat itu, lagu tersebut diputar hampir setiap jam di berbagai radio maupun juga di bebagai kafe-kafe yang ada di seluruh Kolombia.

Di tengah-tengah kemacetan kota Bogota yang tidak kalah macetnya dari Jakarta, lagu tersebut menjadi hiburan bagi sebagian orang dan juga semua pecinta musik latinos yang ada di Kolombia. Lagu ‘La Bicicleta’ bagi orang Kolombia sendir telah menjadi semacam soundtrack untuk berbagai macam acara berkaitan dengan lingkungan hidup khususnya kampanye untuk dapat mengurangi polusi dan membudayakan sepeda di kalangan masyarakat yang ada disana.

Di setiap kegiatan Ciclovia (car free day-nya Bogota) lagu ini juga selalu diperdengarkan baik oleh perorangan maupun juga di berbagai stand pemkot dan perusahaan-perusahaan yang sedang menggelar kegiatan CSR-nya.

Membudayakan Sepeda di Masyarakat Kolombia

Bagi orang Kolombia sendiri, bersepeda sendiri sudah menjadi semacam sebuah budaya. Bahkan, negara tersebut telah berhasil mencetak atlet-atlet internasional yang berhasil menjadi pemenang olimpiade dan kejuaraan bersepeda internasional. Seperti halnya Mariana Pajón (pemenang medali emas olimpiade Brasil untuk olahraga BMX), Carlos Alberto Ramírez, Nelso Soto, Miguel Angel Lopez, dan juga masih banyak lainnya.

Di Bogota khususnya, kehidupan sehari-hari dari masyarakatnya juga sangat dekat dengan alat transportasi sepeda. Jika di Jakarta dahulu kita akan melihat tukang loper koran atau sekarang tukang-tukang kopi dengan sepedanya, di Bogota sendiri orang-orang yang bekerja sebagai pengantar barang belanjaan sehari-hari pada saat ini juga banyak yang menggunakan sepeda. Tak hanya itu saja, di Bogota, patroli polisi juga banyak yang menggunakan sepeda sebagai kendaraan. Sebaliknya, sepeda motor jumlahnya masih sangat sedikit dan bisa dihitung dengan jari.

Lalu, setiap hari di sepanjang jalan dari apartemen sampai ke tempat tinggal dan area perkantoran selalu dijumpai orang-orang yang pulang pergi dengan menggunakan sebuah sepeda. Dengan baju necis lengkap dengan sepatu kantornya, dasi, dan jasnya, para karyawan maupun juga mereka eksekutif muda Bogota santai mengayuh sepedanya menuju tempat kerja.

Tidak lupa juga mereka menggunakan kelengkapan pengaman seperti helm yang wajib digunakan oleh para pengendara sepeda tersebut. Belajar sepeda juga masuk ke dalam kurikulum yang ada di playgroup. Karena disana anak-anak akan diajarkan naik sepeda sejak dini.

Concern masyarakat dan juga berbagai lembaga pendidikan yang ada di Bogota terhadap upaya menciptakan sebuah lingkungan yang bersih dan mengurangi polusi yang sekarang ini memang cukup tinggi. Sejak kecil, masyarakatnya sudah diperkenalkan dan juga dididik untuk menggunakan transportasi yang sehat dan juga ramah lingkungan seperti sepeda.

Bersepeda juga diklaim sangat penting karena dapat menjadi sebuah olahraga yang murah dan juga sangat banyak bermanfaat untuk jantung maupun juga untuk mengurangi obesitas yang akan mengancam generasi muda di Bogota. Hal ini yang mungkin nantinya dapat dicontoh oleh sekolah-sekolah lainnya yang ada di kota-kota besar di Indonesia dalam upaya menciptakan sebuah generasi yang sehat dan juga menciptakan sebuah lingkungan yang bersih.

Kebijakan Pro-sepeda

Pemerintah Kota Bogota juga sangat gencar melakukan berbagai macam kampanye bersepeda. Wali Kota Bogota, Enrique Peñalosa dikenal juga sangat gemar bersepeda. Dalam beberapa kesempatan acara di beberapa kelas internasional yang diselenggarakan di Bogota, Peñalosa mengundang para tamu dari berbagai negara yang ada di dunia untuk datang ke Bogota untuk berkeliling menikmati segarnya udara di Bogota dengan sepeda. Pemerintah kota juga mengklaim bahwa setiap hari kurang lebih ada 900 orang lebih bermobilitas dengan menggunakan sepeda.

Keberpihakan pemerintah dan juga upaya mendorong penggunaan sepeda juga dilakukan dengan cara membangun jalur khusus untuk para pengguna sepeda. Bogota merupakan sebuah kota dengan jalur sepeda terpanjang yang ada di kawasan Amerika Latin.

Pada Agustus 2018, saat ulang tahun ke 480 tahun Bogota, telah diresmikan jalur-jalur sepeda baru yang ada di Bogota yang kemudian menggenapi 500 kilometer total jalur sepeda yang dimiliki oleh Ibu Kota Kolombia tersebut. Wali Kota Bogota sendiri bahkan merencanakan untuk menambah 200 kilometer lagi jalur sepeda hingga akhir tahun 2019.

Lebar jalur sepeda yang terdapat di Bogota juga sangat memadai, yaitu antara 1,5-2 meter. Tidak lupa, jalur sepeda ini dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas untuk dapat menjamin keselamatan pesepeda dan pengguna jalan lainnya. Selain itu, polisi lalu lintas juga akan bersepeda setiap hari melakukan patroli di jalur sepeda untuk da[ay menjaga keamanan dan kenyamanan dari para pengguna sepeda.

Untuk mendorong masyarakat nantinya membeli sepeda pemerintah menetapkan pajak pertambahan nilai sepeda yang hanya sebesar 5%. Nilai tersebut jauh dari pajak yang dibebankan untuk produk-produk lain yang pajaknya sebesar 19%. Tak heran jika setiap orang yang ada di Bogota rata-rata memiliki sepeda, mulai dari sepeda yang biasa-biasa saja hingga sepeda yang berkelas dengan harga yang mencapai ribuan dolar amerika.

Demikian itulah budaya sepeda di Kolombia, menjadi salah satu negara yang ada di kawasan Amerika latin yang menjadikan sepeda sebagai moda transportasi utama. Upaya dan juga dukungan yang pemerintah berikan terhadap kebijakan bersepeda tersebut sangat tepat dan bagus. Jika anda berencana untuk mengunjungi Kolombia, jangan lupa berkeliling menikmati keindahan kota-kota di Kolombia dengan bersepeda.